Assalamu'alaikum Wr Wb

Pelajarilah ILMU, mempelajarinya karena Allah adalah KHASYAH, Menuntutnya adalah IBADAH, mempelajarinya adalah TASBIH, mencarinya adalah JIHAD, Mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahui adalah SHADAQAH, menyerahkan kepada ahlinya adalah TAQARRUB. Ilmu adalah teman dekat dalam kesendirian dan sahabat dalam kesunyian.

Wa'alaikumsalam Wr Wb


Senin, 30 Januari 2012

Surga Di Telapak Kaki Ibu

Surga Di Telapak Kaki Ibu


Ayah dan ibu adalah orang tua yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan tanpa pamrih. Bagi mereka, anak adalah buah hati yang mereka harapkan dapat menjadi generasi penerus yang akan selalu mendoakan orang tuanya. Orangtua kita telah bersusah payah memelihara dan menjaga kita siang dan malam dengan mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan sebagainya, demi memberikan yang terbaik untuk kita.
Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi setiap anak untuk selalu berbakti kepada kedua orangtuanya. Terlebih dalam ajaran Islam, tuntutan agar berbuat baik kepada ayah dan ibu merupakan perintah Allah swt yang wajib ditunaikan. Sebagai seorang anak, kita diperintahkan agar sentiasa melakukan kebaikan terhadap ayah dan ibu, seperti bersikap lemah lembut, berbudi bahasa, tidak berlaku kasar, dan selalu ingat serta menghargai jasa dan pengorbanan yang telah mereka berikan  kepada kita selama ini.
Allah swt berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Isra’:23)
Berbakti kepada kedua orang tua dapat direfleksikan dengan rasa syukur dan rasa terima kasih kita kepada mereka. Karena Allah swt juga memerintahkan kita untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada kedua orang tua kita. Firman Allah swt: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman:14)
Memang sungguh besar peranan dan pengorban kedua orang tua kita. Terlebih lagi bagi seorang ibu, yang mengandung, melahirkan, serta membesarkan anaknya. Karena itulah Islam mengangkat derajat seorang ibu lebih dari seorang ayah. Rasulullah saw juga telah menegaskan bahwa ibu adalah orang tua yang harus kita hormati dan berbakti padanya dengan sebaik mungkin. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw lalu bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik mungkin?” Rasulullah saw bersabda: “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah saw bersabda: “Kemudian ibumu.” Orang itu terus bertanya: “Kemudian siapa?” Rasulullah saw bersabda: “Kemudian ibumu.” Orang itu terus bertanya: “Kemudian siapa?” Rasulullah saw bersabda: “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, Ahmad)
Dengan banyaknya jasa dan pengorbanan ibu, maka ia patut diberikan penghormatan yang begitu tinggi. Ingatlah selalu bahwa surga itu adanya di telapak kaki ibu. Rasulullah saw bersabda, “Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya.” (HR. Imam Nasa’i dan Thabrani dengan sanad hasan)
Apabila kita membuat ibu kita kesal atau bersedih hati, maka ia akan menjadi tidak ridho terhadap kita. Apalagi bila seorang ibu telah murka pada anaknya, maka murka Allah pulalah yang akan bersama anaknya itu. Tentunya kita tidak ingin hal tersebut terjadi pada kita, bukan? Oleh karena itu, sebisa mungkin untuk selalu berbuat baik pada ibu kita, menyenangkan hatinya dengan membalas jasa-jasanya.
Seorang anak tentunya akan merasa nyaman hidup di tengah keluarga dengan kasih sayang ibu yang tiada hentinya serta didukung pula oleh ayah yang juga menyayangi  keluarganya. Untuk itu, sebagai anak kita harus senantiasa mentati dan mendoakan keduanya, agar selalu diberkati Allah swt. Mohonkanlah ampunan dan kesejahteraan untuk orang tua kita, semoga Allah swt senantiasa merahmati dan mengampuni dosa-dosa mereka.
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al Isra’:24)

Minggu, 29 Januari 2012

Ketetapan Alloh

Apakah manusia sebelum lahir sudah ditetapkan oleh Allah dengan ketetapan baik atau ketetapan buruk. Apakah Allah menetapkan manusia itu dengan sewenang-wenang ? Apakah benar manusia sebelum lahir ditetapkan Allah seperti dalam Lauh Mahfuzh ? Apa itu Lauh Mahfuzh ? Marilah kita pelajari pertanyaan-2 diatas melalui ayat-2 Al Quran.

Surat Al Hajj (22) ayat 70
"Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah."


Surat Faathir ayat 11

"Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah."


Surat Yaasiin (36) ayat 12"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)."

Surat Ar Ra'd (13) ayat 39
"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh)." 


Dilihat ayat-ayat yang menjelaskan Lauh Mahfuzh diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Lauh Mahfuzh adalah suatu kumpulan ilmu (Al Hajj ayat 70) dan kumpulan catatan tentang perbuatan manusia ( Yaasiin ayat 12) serta kehendak Allah ( Ar Ra’d ayat 39 dan Faathir ayat 11).
Berkaitan dengan ketetapan Allah, ayat tentang Lauh Mahfuzh yang berkaitan tentunya yang mempunyai arti ” kumpulan catatan perbuatan manusia dan kehendak atau ketetapan Allah”
Ketetapan Allah bukanlah merupakan ketetapan yang sewenang-wenang dan merugikan manusia. Ketetapan Allah merupakan ketetapan yang seadil-adilnya tergantung dari perbuatan manusia yang telah dikerjakan sebagaimana ayat berikut ini. 

Surat Yunus (10) ayat 44
"Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri."



Surat Al Ankabuut (29) ayat 40
"Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. "

Surat Asy Syuura (42) ayat 30
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)."

Surat An Nisaa' (4
S) ayat 40

"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, niscahya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar"

Seorang yang dilahirkan cacat, atau orang yang dilahirkan oleh seorang ibu yang miskin dan papa yang rumahnya dibawah jembatan atau orang yang dilahirkan dari seorang ibu dan ayah yang beragama yahudi dan kristen. Apakah ini merupakan ketetapan Allah ? Ya ini merupakan ketetapan Allah berdasarkan hasil perbuatannya yang dicatat dalam Lauh Mahfuzh ( Surat Yaasiin (36) ayat 12)
"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)"

Jika hidup ini baru pertama kali, maka pernyataan bahwa Tuhan sedikitpun tidak merugikan hambaNya, tidak benar adanya. Didalam Al Quran Tuhan telah menyatakan dengan tegas bahwa Dia tidak merugikan manusia sedikitpun, bahkan diri manusia yang menganiaya dirinya sendiri seperti surat diatas. Allah menetapkan berdasarkan hasi hisab perbuatan yang dilakukan manusia. Perbuatan yang mana, ya, perbuatan yang dilakukan sebelumnya dalam kehidupan ini dan atau perbuatan sebelum di hidupkan kembali. Dihidupkan dimana ? Ya, dihidupkan lagi di bumi sebagaimana Surat An Naazi´aat (79) ayat 14
"maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi."
Dipermukaan bumi yang mana ? Yang jelas yang dimaksud bumi tentu seperti bumi yang kita pijak ini.
Serta merta hidup kembali di permukaan bumi ini terus jemegler (Bhs.Jawa) hidup diatas bumi. Tentu tidak, pasti melalui proses kelahiran. Karena Tuhan telah memberikan metafor terhadap proses kebangkitan atau kehidupan sesudah mati. 
Seperti dalam Surat Qaf (50) ayat 11.
"untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan"

Kalau tanah itu menjadi hidup tentunya akan muncul trubus atau kecambah yang akan menjadi tanaman-tanaman. Demikian juga proses kebangkitan atau proses kelahiran kembali. Ya, tentunya proses kelahiran itu melalui hubungan suami istri. Kebangkitan manusia ini disamakan dengan hidupnya tanah yang kering kemudian tumbuh tunas (kecambah) tanaman dan seterusnya. Jadi manusia dibangkitkan itu tidak langsung serta merta (Bhs. Jawa : jemegler) jadi manusia dewasa. Tetapi melalui proses bertemunya sel sperma dan sel telur, kemudian berproses menjadi bayi dan dewasa. 

Dengan demikian takdir buruk dan takdir baik itu merupakan hasil perbuatan manusia sendiri dan bukan kehendak Allah yang berdasarkan kesewenang-wenangan. Tuhan menetapkan apa yang Ia kehendaki dapat diartikan Tuhan berkehendak menetapkan apa yang dikehendaki hambaNya. Tuhan tidak pernah membuat manusia menderita dalam hidupnya. Ini bukan hanya untuk orang-orang tertentu. Semua manusia tak pernah dan tak akan dianiaya oleh Tuhan. Bahkan jika manusia berbuat kebaikan sekecil apapun, Allah akan melipat gandakannya. Faktor inilah yang membuat manusia dapat menyempurnakan dirinya. Tuhan, dalam hal ini, hanya menjadi fasilitator. Tuhanlah yang memberi rahmat dan kemudahan pada diri manusia.
Wa llahu alam bi showab.

Minggu, 22 Januari 2012

- Perkenankan Aku MenCintaiMU semampuku -



Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu.
Kajian demi kajian tarbiyah kupelajari,
untai demi untai kata para ustadz kuresapi.
Tentang cinta para nabi, tentang kasih para sahabat,
tentang mahabbah orang shalih, tentang kerinduan para syuhada.
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam,
kutumbuhkan dalam mimpi idealisme yang mengawang di awan.

Tapi Yaa Rabbi…
Berbilang hari demi hari dan kemudian tahun berlalu,
tapi aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu,
aku makin merasakan gelisahku membadai
dalam cita yang mengawang, sedang kakiku mengambang.
Hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan.

Allahu Rahiim, Illahi Rabbii,
perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku.
Perkenankanlah aku mencintai-Mu, sebisaku.
Dengan segala kelemahanku.

Yaa Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu dengan kesabaran menanggung derita.
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al-Mustafa.
Karena itu ijinkan aku mencintai-Mu
melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu,
atas derita batin dan jasadku, atas sakit dan ketakutanku.

Yaa Rabbii,
Aku tak sanggup mencintai-Mu seperti Abu Bakar,
yang menyedekahkan seluruh hartanya
dan hanya meninggalkan Engkau dan Rasul-Mu
bagi diri dan keluarganya.
Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo hartanya demi jihad.
Atau Ustman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan Dien-Mu.
Ijinkan aku mencintai-Mu,
melalui 100-500 perak yang terulur
pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,
pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan
di pojok-pojok jembatan. Pada makanan-makanan
yang terkirim ke handai taulan.

Yaa Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
dengan khusyuknya shalat salah seorang sahabat nabi-Mu,
hingga tiada terasa anak panah musuh terhujam di kakinya.
Karena itu Ya Allah,
perkenankanlah aku tertatih menggapai cinta-Mu,
dalam shalat yang coba kudirikan dengan terbata-bata,
meski ingatan kadang melayang
ke berbagai permasalahan dunia.

Rabbii,
aku tak dapat beribadah ala orang-orang shalih
atau bagai para hafidz dan hafidzah yang membaktikan
seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu
dalam satu putaran malam.
Perkenankanlah aku mencintai-Mu,
melalui satu - dua rakaat sholat lailku,
atau sekedar sunnah nafilahku,
selembar dua lembar tilawah harianku.
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

Yaa Rahiim,
aku tak sanggup mencintai-Mu semisal para syuhada,
yang menjual dirinya dalam jihad bagi-Mu.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu
dengan mempersembahkan sedikit bakti
dan pengorbanan untuk dakwah-Mu,
dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.

Allahu Kariim,
aku tak sanggup mencintai-Mu di atas segalanya,
ijinkan aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku,
membawa mereka pada nikmatnya hidayah
dalam naungan Islam, manisnya iman dan ketabahan.
Dengan mencintai sahabat-sahabatku,
mengajak mereka untuk lebih mengenal-Mu,
dengan mencintai manusia dan alam semesta.

Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku, Yaa Allah.
Agar cinta itu mengalun dalam jiwa.
Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.

Amin...

Jumat, 20 Januari 2012

- Muhasabah Diri -




Ya Allah, Aku hanyalah sebutir pasir di gurun-MU yang luas 

Aku hanyalah setetes embun di lautan-MU yang meluap hingga ke seluruh samudra 

Aku hanya sepotong rumput di padang-MU yang memenuhi bumi 

Aku hanya sebutir kerikil di gunung-MU yang menjulang menyapa langit 

Aku hanya secercah bintang kecil yang redup di samudra langit-Mu yang tanpa batas 

Ya Allah ......... 


Hamba yang hina ini menyadari tiada artinya diri ini di hadapan-MU 

Tiada Engkau sedikitpun memerlukan, akan tetapi ......
 hamba terus menggantungkan berjuta harapan pada-MU 

Ya Allah ......... 

Baktiku tiada arti, ibadahku hanya sepercik air 

Bagaimana mungkin sepercik air itu dapat memadamkan api neraka-MU 

Betapa sadar diri begitu hina dihadapan-MU 

Jangan jadikan hamba hina dihadapan makhluk-MU 

Diri yang tangannya banyak maksiat ini, 

Mulut yang banyak maksiat ini, 

Mata yang banyak maksiat ini

Hati yang telah terkotori oleh noda ini, memiliki keinginan setinggi langit 

Mungkinkah hamba yang hina ini menatap wajah-Mu yang maha mulia 

Ya Allah ......... 

Kami semua fakir di hadapan-MU tapi juga kikir dalam mengabdi kepada-MU 

Semua makhluk-MU meminta kepada-MU dan pintaku ..... 

Ampunilah aku dan sudara-saudaraku yang telah memberi arti dalam hidupku 

Sukseskanlah mereka mudahkanlah urusannya 

Mungkin tanpa kami sadari , kami pernah melanggar aturan-MU 

Melanggar aturan qiyadah kami, bahkan terlena dan tak mau tahu akan amanah

Yang telah Engkau percayakan kepada kami, maka Ampunilah kami ...

Pertemukan kami dalam syurga-MU dalam bingkai kecintaan kepada-MU 

 Ya Allah ......... 

Siangku tak selalu dalam iman yang teguh 

Malamku tak senantiasa dibasahi airmata taubat

Pagiku tak selalu terhias oleh dzikir pada-MU 

Begitulah si lemah ini dalam upayanya yang sedikit 

Janganlah kau cabut nyawaku dalam keadaan lupa pada-Mu 

Atau, dalam maksiat kepada-MU 

Ya Allah ......... 

Tutuplah untuk kami dengan sebaik-baiknya penutupan di dunia fana ini,
dan berilah kami jalan yang terang menuju ke hadiratMU ya Rabb........, Amin Ya Alahuma Amin.

Rabu, 11 Januari 2012

Jual - Beli Pemimpin di Industri Demokrasi

Sebuah tulisan menarik, sayang kalau diabaikan.., dengan pernyataan mohon maaf kepada penulis dan penerbit, saya masukkan di blog saya ini dengan harapan agar dapat dijadikan sbg mata hati dlm menyikapi  realita di Negeri kita tercinta,,
Terimakasih... Semoga bermanfaat.....


Jual-Beli Pemimpin di Industri Demokrasi

Oleh KH A Hasyim Muzadi

http://koran.republika.co.id/koran/133/132342/Jual_Beli_Pemimpin_di_Industri_Demokrasi

Sudah barang pasti para founding fathers, jamaah pendiri republik, dan syarikat penyusun tata kerja dan pola kerja pemerintahan negeri ini di masa lalu akan tercengang kalau sempat menyaksikan Indonesia masa kini. Betapa tidak! Nyaris semua pilar kehidupan sudah terbalik-balik. Semuanya terjadi sesuai selera belaka. Bahkan, konsensusnasional pun dibuat atas cita rasa selera. Celakanya, semua terjadi atas nama "konstitusi". Yang paling mutakhir adalah militansi ketua sebuah federasi olahraga yang menolak mundur "on behalf of" konstitusi, meski semua suara sepakat "melemparnya keluar pesawat". Dalam situasi demikian, di mana gerangan berkah kehidupan?

Indonesia masa kini adalah negeri modern dengan berbagai fasilitas dan medium paling sempurna untuk membuat semua mimpi menjadi kenyataan.
Sebuah "dunia" di mana yang mustahil bisa menjadi nyata, sistem pemerintahan presidensial, tapi serasa parlementerian ahli ekonomi berbaju mantel pengisap rente, bahkan para moralis bisa sekamar dengan pelaku jual-beli aneka macam "amanat" rakyat. Sebuah "perselingkuhan" yang menjijikkan. Perselingkuhan yang tentu saja dilegitimasi atas nama "konstitusi". Lalu, di mana berkah sebuah konstitusi bagi kehidupan?

Untuk semua ragam pragmatisme itu, di sini amat gampang ditemukan. Hatta kalau kita ingin membeli kepemimpinan, di mana adanya? Hanya di Indonesia modern kita akan memperoleh fasilitas paling nyaman untuk menjadi pemimpin. Dan, itu akan semakin gampang dilakukan kalau kita memiliki keberanian. Berani yang tidak menyisakan rasa takut sedikit pun. Bahkan, kalau harus berhadapan dengan para malaikat pencabut nyawa; para pemimpin produk demokrasi industri sudah siap dengan segala bentuk jawaban. Tentu saja, tak ada keberkahan hidup dalam industri demokrasi semacam ini.

Tak percaya? Lihatlah betapa demokrasi di negeri ini sudah benar-benar menjelma sebuah industri. Dulu, dari zaman James Watt, kita hanya mengenal industri dalam kaitannya dengan alat-alat industri yang bertujuan "membuat" hidup jadi lebih mudah. Maka, muncullah mesin uap. Tapi, Watt tak akan pernah menyangka, "uap" yang jamak ditemukan untuk menjalankan sebuah mesin, kini telah sukses membuat banyak anggaran negara "menguap". Dulu, kita mengenal Thomas Alva Edison karena jasanya membuat dunia terang benderang. Tapi, tentu dia tak akan pernah menyangka listrik menjadi ladang korupsi yang
membuat sebuah bangsa merana.

Di mana semua ini bisa terjadi? Salah satunya yang paling mungkin tentu di negeri kita. Sebab, di sini para pemimpin formal dan non-formal bisa berada dalam satu tarikan napas; memproduksi pemimpin-pemimpin yang bukan taat kepada rakyat, melainkan patuh kepada yang membelikan baginya kepemimpinan. Kalau di antara kita punya kenekatan, cobalah peruntungan di bursa industri demokrasi. Kini, sudah amat sulit menemukan di negeri ini, pemimpin yang benar-benar datang dari rakyat, besar bersama rakyat, dan hidupnya hanya di-abadikan untuk rakyat yang melindungi dan membesarkannya. Kondisi ini terjadi di hampir semua strata; dari tingkat RT ke RW, dari kepala desa ke wali kota, bupati, gubernur hingga ke presiden, dari DPRD hingga DPR-RI di pusat pemerintahan, Jakarta.

Benarkah kita mengenal mereka semua, para pemimpin, sebelum akhir-nya menjadi produk asli industri demokrasi? Tahu-tahu, dia yang selama ini dikenal sebagai pengusaha lalu mentas di Senayan. Tahu-tahu, dia yang dulu penarik retribusi di pasar, kini sudah menjadi anggota DPRD Kota. Dulu, dia tak lebih dari seorang preman kelas kampung, tapi kini sudah mengendarai mobil berlavel SUV atas nama wakil rakyat. Kalau kita, sekali lagi, punya keberanian dan sedikit modal teriak-teriak, datanglah kepada pemilik modal,
mintalah mengeluarkan sedikit uang, maka jadilah kita seorang pemimpin yang sah plus legitimate sesuai norma demokrasi.

"Hindari politik uang" tak lebih dari sebuah semboyan di mulut, tetapi akan segera mengering diterpa kipas-kipas lembaran rupiah.

Kapitalisme yang mencengkeram kuat Indonesia benar-benar telah membuat nilai luhur demokrasi menjadi layaknya sebuah industri;
industri penghasil hak suara yang kemudian dijual kepada konsumen. Tentu pembelinya adalah kelompok berduit dan kekuasaan yang tidak percaya diri bahwa dia didukung rakyat. Satu hal yang hampir dapat dipastikan, uangnya bukan kantong sendiri. Ah yang benar? Lihatlah tanda-tandanya! "Siapa yang menang di bursa pemilihan? Yang independen ataukah yang mendadak menang, karena kekuatan tukang intervensi?" Pemimpin yang insya Allah tak akan berkah!
Kalau akhirnya terpilih, akan dengan mudah ditebak ke mana ia akan melangkah. Akankah dia mengabdi kepada para pemilihnya ataukah mengabdi kepada orang atau pihak yang membelikan untuk-nya kepemimpinan. Saat ini, karena demokrasi sudah menjelma industri, penikmatnya adalah dari kelas masyarakat paling atas hingga mereka yang berada di paling dasar. Rakyat pembeli suara akan berkolaborasi secara mekanis dengan para cukong pembeli suara untuk memproduksi kepemimpinan untuk si terpilih.

Renungkan! Betapa hal ini terjadi di semua tingkatan dalam semua lapisan masyarakat, baik itu kepemimpinan formal, non-formal dan informal. Bahkan, untuk jadi seorang "tokoh" pun, kita bisa mencarinya di bursa ini.

Kita tinggal memoles diri atau dipoles alias membangun citra menjadi "seolah-olah". Seolah-olah telah menjadi pemimpin. Seolah-olah pembela rakyat. Ini semua amat bergantung pada selera pemesan. Kalau ingin jadi pemimpin dermawan, tinggal panggil EO atau PR, lalu bersafari ke kantong-kantong kemiskinan, tebar derma. Jangan lupa ikut sertakan beberapa kru media massa. Jangan takut jatuh miskin sebab dermanya tidak meloncat dari kantong sendiri. Itu bisa dari loan, hibah, atau pajak yang diambil dari rakyat.

Maka, jadilah kita sebagai pemimpin seolah-olah di tengah rakyat yang juga seolah-olah. Seolah-olah produk asli demokrasi. Bentuk pemerintahan yang katanya kita adopsi dari luar. Dahsyat.

Sadarkah kita bahwa yang kita hadapi ini bukan dunia seolah-olah? Sejujurnya kita hidup di dunia nyata yang semua perbuatan kita harus dipertanggungjawabkan. Kalau pelanggaran atas norma kehidupan masuk kategori rusak dan merusak, Allah akan menyiapkan respons serius atas polah tingkah laku kita.

Maka, jangan kaget jika muncul aneka macam musibah dan bencana.
Kelaparan dan ketakutan seperti menyelimuti anak bangsa ini.

"Fa AdzaaqohaalLaahu Libaasal Juu-i W al Khoufi-Maka Allah akan merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan."

"…Liyakfuruu Bimaa Aatainaahum Fa Tamatta-uu-Biarlah mereka mengingkari apa yang telah Kami berikan kepada mereka, maka bersenang-senanglah." (QS an-Nahl : 55).

Sadarlah, berkah kehidupan sangat mungkin hilang akibat industri demokrasi.

Wallaahu A'lamu Bishshowaab